hei lihat
hei lihat.
“Hei lihat dia. Dia berbeda. Dia tidak suka apa yang
kita suka. Dia suka apa yang kita tak suka. Hei lihat. Dia menggambar itu. Jelek
sekali. Gambar apa itu? Itu hanya goresan kertas yang tidak berguna. Dia hanya
menggambar garis. Apa apan? Lihat, garis itu saja tidak lurus. Hei dengar dia
bersenandung. Lagu apa itu? Kata-katanya tidak kumengerti. Nadanya jelek. Tidak
seperti lagu enak yang sering ku dengar di ponselku. Hei dia berhenti
menggambar. Hei lihat dia menonton sesuatu di laptopnya. Apakah itu seperti
tontonanku? Kalau iya pasti aku akan mengampuninya. Oh tidak. Dia menonton
video seseorang bermain game. Dia tertawa ketika orang itu menyorotkan sesuatu.
Aku yakin dia orang yang aneh. Hei lihat galeri di ponselnya. Apa ini? Hanya ada
gambar screenshot yang tidak jelas. Aku pernah melihatnya meleleh ketika
melihat foto orang ini. Dia tidak tampan. Dia tidak setampan orang yang aku
sukai. Hei coba lihat dia menggambar lagi. Oh tidak. Gambar itu indah sekali. Dia
menggambar dua pria. Tetapi itu belum detil.Indah sekali. Kemudian aku bilang, ‘gambar
ini bagus sekali.’ Dia menjawab dengan nada seolah dia ingin terlihat ramah. ‘ini
masih sketsa kok. Hehe…’ tawanya terlihat di buat-buat. Sombong. Gambaran seindah
itu bukanlah sketsa. Itu sudah selesai. Seharusnya itu sudah selesai.
Hei. Dia akan tampil di acara besok. Oh dia bernyanyi. Aku yakin pasti
suaranya akan jelek sekali. Oh lihat apa yang dipakainya. Kemeja hitam dengan
corak bunga dengan baju tangan panjang hitam juga celana hitam. Itu cocok
untukku bukan untuknya. Yang membuatku heran adalah kenapa teman-teman ku terkagum
olehnya. Dia memulai dengan napas panjang. Yang membuatku terganggu. Kemudian dia
berbicara cepat. Teman- temanku terkagum dan bertepuk tangan. Kemudian dia
bernyanyi. Suaranya bagus. Tetapi kurang. Tetapi para orang tua bertepuk tangan
sambil berdiri. Akhirnya acara ini selesai juga. Hei lihat. Dia bertemu
seseorang. Oh seseorang yang ada di galerinya. Dia terlihat sangat gembira. Begitu
juga orang yang ditemuinya.
Hei lihat. Masa depanku lebih buruk darinya. Hei lihat.
Dia ada di tangga atas yang jauh dariku. Hei lihat. Gambarnya yang dia bilang
sketsa itu dia gambar lagi. Hei itu lebih detil lagi. Dia menggambarnya dengan
media yang lebih besar. Hei lihat aku yang disini hanya melamun menunggu
pelanggan datang dan bilang selamat datang. Hei lihat siapa yang datang. Itu dia.
Dengan senyumanya yang tak pernah diganti. Hei lihat dengan siapa dia kemari. Dua
orang anak yang lucu. Hei lihat. Aku berbincang dengannya. Sekarang aku yang
ragu berada di depannya. Haha.. hei lihat sekarang dia pergi. Dia pergi. Sekarang
aku disini tersenyum. Haha. Perspektif orang berbeda-beda.”
Komentar
Posting Komentar